Aku pernah menulis status di Facebook.Sebuah kata-kata mutiara, yang menurutku keren pada waktu itu. Namun sekarang, jika Facebook mengingatkan aku untuk melihatnya kembali, seolah ingin mengatakan pada teman-temanku: "YAng nulis bukan aku, akun facebookku dibajak saat itu". Dalam diam aku malu. Pada kenyataanya kata kata itu terkesan menggelikan bahkan menjijikan. Jangan penasaran!
Iya, semua itu karna cinta. Cinta ketek. lebih jelasnya, karena waktu itu aku masih kategori anak-anak. Aku pernah mencintai seorang perempuan primadona di sekolah. Aku mencintainya bukan karena alasan lain, cantik yang pertama. Tapi selain cantik menurutku dia juga baik dan solehah. Dia besar di pesantren. Seketika dalam otaku ketika melihatnya. Ingin sekali memiliki istri yang solehah seperti dia. Aku bayangkan kelak, jika kami sudah berkeluarga. Saat dia sedang mengelus elus perutnya yang membesar (hamil) seraya mulutunya bergumam "Sholatullah Salamulah Ala Taha Rasulillah..." Ah lucunya aku memikirkan hal itu ketika aku berusia 15 tahun.
Aku sempat ingin berhenti mengaguminya. Aku sendiri merasa tak pantas untuknya. Jelas dia putih aku hitam. Dia baik aku buruk, dia solekhah aku bejat. Yaa jika dianalogikan seperti sandal sliwahan dia carvil dan aku swalow. Tapi yang namanya cinta semakin dipendam semakin menjadi. Sampai suatu ketika saat waktu pulang sekolah akupun memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku dan BOMMM.... AKU DITOLAK.
Sempat dibuatnya kecewa. Bukan maksudku aku kecewa olehnya. Terlebih aku kecewa pada Google. Tutorial-tutorial yang kupelajari ternyata menyesatkan, hingga pada akhirnya aku memutuskan harus berantonim pada kata kata google. Jika google mengatakan "cinta itu tidak bisa dipaksakan", berarti bagiku, cinta itu harus memaksa.
Selang beberapa minggu setelah aku menyatakan perasaanku, aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku lagi untuk yang kedua kalinya, tepatnya dihari ulang tahunnya. Belajar dari pengalaman. Aku tidak memakai tutorial yang diajarkan Google, melainkan dengan cara yang kubuat sendiri. Kuhadiahkan kado untukya yaitu dua pasang kaos kaki yang satu pendek dipakainya ke sekolah dan yang satu panjang untuk dipakainya tidur. Kali ini aku tidak di tolak. Tapi sayangnya juga tidak diterima. Dia meminta waktu tiga hari untuk menjawabnya (hedeeeehh udah kaya ujian nasional tiga hari). Tiga hari selanjutnya diapun menjawabnya dan BOMMMMMM dia bilang: maaf aku gak bisa.
Merasa kecewa dan sedih begitu dia mengatakannya akupun langsung pergi meninggalkanya dengan mimik muka yang sedikit marah dan kesal. Tapi sambil berjalan meninggalkan dia. rasa-rasanya aku ingin dia berucap "hai tunggu. Aku cuma bercanda", tapi nyatanya tidak.
Esoknya akupun berangkat sekolah tanpa semangat seperti biasa. Masih ada kekecewaan yang membekas di sekujur tubuh. Jika sebelumnya aku selalu menggodanya dan berusaha agar mendapat perhatiannya. Hari itu malah sebaliknya. melihatnya hanya membuat lukaku melebar.
Bel pulang sekolah akhirnya pun bunyi. Sontak aku langsung menggendong tas sekolahku karena hari itu aku tidak mengeluarkan sesuatu dalam tasku. Tapi ketika aku berdiri beranjak pergi dari tempat duduk ada yang memanggilku dari arah belakang "hai tunggu" setelah kutengok ternyata dia. Si gadis yang selama ini kukagumi. Seolah menutupi apa yang terjadi padaku kemarin. akupun menjawabnya "iya ada apa", dia bilang "iya aku mau sama kamu". Mendengarnya bicara seperti itu jantungku berdegup kencang layaknya musik diskotik (dub se dub se dub se dub se dub). Sambil begetar aku pun berkata "oo kk ee" "oke". Dan ahirnya hari itu kamipun resmi pacaran.
Berbeda dari malam sebelumnya. Jika kemarin aku galau pasrah diterpa dilema merenungi nasibku yang malang. Malam ini begitu indah. Malam ini aku tak bisa berhenti tersenyum sendirian sambil memikirkan hal bahagia apa yang akan terjadi besok ketika bersamanya. berharap bisa berbagi kasih dengan orang yang kugagumi selama ini. Pagipun tiba dan aku sangat bersemangat pergi sekolah, sampainya di sekolah akupun menunggunya masuk kekelas. Kami satu kelas. Berita buruk pun tersiar. Aku mendengar kabar dari temannya kalau dia sakit dan diharuskan pulang ke rumah (selama sekolah dia tinggal di pesantren). Aku sedih dan kasihan karena dia sakit, tapi di sela kesedihanku ada yang membuatku kesal bahkan marah karena salah satu temanya mengatakan kalau si dia sakit karena tidak kuat menahan pelet yang kuberikan padanya. Njirr. Lelaki jelek jika mendapatkan perempuan cantik pasti dituduh pake pelet.
Jarak rumahnya cukup jauh dari rumahku sehingga akupun tak bisa menjenguknya, komunikasipun sulit karena dia dibatasi bermain hp oleh orang tuanya. Tapi ada salah satu temanya yang kenal dengan orang tuanya jadi dia pun menelpon sampai ahirnya kami berbicara ditelepon ber menit-menit. Satu minggu berlalu ahirnya diapun sehat dan kembali sekolah meski dengan keadaan masih pucat.
Esoknya dia mengajaku bicara berdua setelah pulang sekolah. Aku meng iyakan ajakanya, berharap mendapat kabar baik. Tapi sebaliknya, dia ingin menghentikan hubungan kita dengan alasan yang cukup masuk akal: dia santriwati tidak selayaknya menjalin hubungan pacaran. Dengan berat hati akupun melepasnya, setelah itu kami pun masih berhubungan baik selayaknya teman sekolah.
Tapi ironisnya beberapa hari setelah kita putus dia dikabarkan sedang dekat dengan lelaki lain. Dari kelas lain. Meskipun berita kedekatanya cukup ramai diperbincangkan oleh teman-teman tapi aku yakin selagi bukan dia yang mengatakan aku masih percaya dan menaruh harapan padanya.
Empat tahun berjalan. Sering aku masih memikirkan. Sekarang aku hanya bisa berdoa dan menunggu keajaiban.
"Tuhan, jika cintaku pada Sinta terlarang. Mengapa Kau bangun megah perasaan ini dalam sukmaku", kata Rahwana dalam twit Sujiwo Tedjo.
Mantap gaess, belum mupon dari kaos kaki kuning wokwok
ReplyDeleteOh kaos kakinya berwarna kuning...
ReplyDelete