Saya pernah nulis cerpen sekitar tahun 2014an. Cerpen tentang orang gila. Linknya ada di akhir tulisan. Cerpen ini saya tulis berdasarkan beberapa pengalaman. Pengalaman agak "mistis" yang sebenarnya malas saya ungkapkan.
Pengalaman pertama, adalah ketika saya diajak kakak sepupu ke suatu kabupaten di dataran tinggi. Di kabupaten tersebut konon ada seseorang Wali. Kekasih Allah. Meski latar belakang keluarga saya adalah NU tulen, dari dulu saya selalu mengedepankan logika. Saya seorang positivism dalam bahasa filsafatnya. Saya tidak percaya begitu saja.
Konon, Gus Dur pernah sowan ke tempat ini. Sang wali ini usianya sudah sangat tua. Ia seorang pertapa. Bertapa di lereng gunung. Bertahun-tahun. Tidak mandi. Tubuhnya dekil. Rambutnya tak beraturan. Gimbal. Oleh warga sekitar, dibuatkan gubug. Tenda dari terpal. Seorang warga yang disebut sebagai "kuncen" memberi makan saat sang wali membutuhkan. Saya tidak tahu bagaimana teknis komunikasinya. Karena sepamahaman saya, sang wali sama sekali tidak pernah berbicara.
Informasi yang saya dapatkan dari kakak sebelum sampai di kabupaten tersebut: Banyak orang dari luar kota sowan ke gubuknya, tapi tidak semua tamu ditemui oleh sang wali. Padahal, sang wali tidak pernah kemana-mana. Hanya berdiam diri di bawah tenda. Ada banyak faktor yang membuat tamu tidak bisa ditemui. Atau melihat sang wali. Diantaranya adalah orang yang hatinya sama sekali tidak ada kebaikan. Atau orang yang sedang berhadas besar. Atau terserah sang wali mau menemui apa tidak.
Suatu ketika ada rombongan bus. Mampir di gubuknya Wali. Semua anggota rombongan adalah orang NU kecuali satu orang saja yang Muhammadiyah. Ndilalah, semua anggota rombongan tidak ada yang bisa melihat sang Wali kecuali satu orang. Satu orang tersebut adalah orang Muhammadiyah.
Mendengar itu, sebenarnya saya biasa saja. Tidak sepenuhnya percaya. Tapi di dalam hati, ada kecemasan sendiri. Bagaimana jika saya tidak ditemui. Saya memang bukan orang baik. Tapi sebegitu tegakah Tuhan membuka kedok kejahatan saya. Betapa kotor kah hati saya.
Sesampainya di gubuk tersebut. Setelah berbasa-basi dengan "juru kuncen" dan kami dipersilahkan untuk masuk. Kami masuk ke gubuk. Hanya di pintu tenda. Alhamdulillah saya dapat melihat beliau! Usianya konon sudah diatas angka 100 tahun. Saya masih ingat dengan baik. Wajahnya putih. Tampan.
Saya masih ingat dengan baik: di bawah tenda biru itu, seorang lelaki yang sudah tidak muda lagi. Pakaiannya kumal. Hitam. Sekelilingnya sampah. Bau sampah menyengat di sekitar. Rambutnya berantakan. Tak beraturan. Gimbal. Ia malah seperti kebanyakan orang gila di pinggir jalan. Tapi wajahnya, sungguh sangat teduh. Putih bersih. Beliau tidak bisa diajak komunikasi verbal.
Saat aku ke sana, beliau sedang duduk. Berselimut sarung kumal. Bau menyengat. Tangannya seperti orang kedinginan. Bergetar. Dari mulutnya terdengar suara. Seperti merapalkan mantra. Saya tidak bisa mendengar secara pasti suara apa yang keluar dari mulutnya.
Kami uluk salam. Yang tidak mungkin dijawab. Tapi mungkin saja dijawab, akan tetapi gelombang suara itu tidak mampu terdengar oleh telinga kami. Saat itu saya belum menikah. Saya hanya minta didoakan kebahagiaan dunia akhirat saja. Sang wali tidak menjawab. Tangannya terus bergetar.
Dalam perjalanan pulang. Saya tiba-tiba ada semacam kerinduan. Kerinduan yang sangat aneh. Air mata tidak terasa meleleh. Saya tidak tahu beliau seorang wali apa bukan. Karena saya sendiri bukan wali. Sedangkan yang mengetahui bahwa seorang wali adalah wali. Kok tega-teganya Allah menempatkan kekasihnya seperti orang gila.
*******
Pengalaman selanjutnya. Rumah saya di dekat jalan Pantura. Antara Tegal dan Pemalang. 30 menit ke Pemalang. 30 menit juga ke Tegal. Di jalanan besar seperti Pantura tentu saja sangat mudah menjumpai orang gila. Saya akrab dengan wajah-wajah orang gila di jalanan. Apalagi di Senayan. Ehh~
Tapi ada satu orang gila yang membuatku harus berfikir keras. Dia sebenarnya biasa saja. Seperti orang gila pada umumnya: pakaian compang-camping, tubuh dekil, pokoknya serba semrawut. Tapi ada yang beda dengan dia. Dia selalu berputar-putar. Seolah sedang menari. Menari seperti tari sufi!
Dari arah Pemalang. Ketika saya pulang bekerja. Saya melihat dia menari. Lokasi dia menari sangat dekat dengan kabupaten Pemalang. Berkali-kali saya melihat dia seperti itu. biasa saja. Tapi ada momen dimana dia tidak menari. Dia berdiam diri. Setelah saya perhatikan secara sungguh-sungguh: Dia menari di pinggir jalan yang dekat dengan sawah (di jalan Pantura masih ada sawah loh ya...).
Orang gila tersebut akan menari pada waktu-waktu tertentu. Yaitu saat masa tanam. Ketika padi sudah ditanam dia akan berhenti menari. Menari lagi saat padi mulai menguning hingga masa panen tiba. Saat menari, wajahnya sumringah. Bahagia.
Suatu siang, pulang bekerja dari arah Pemalang saya melihatnya terduduk lemas. Ndilalah saya bawa makanan. Motor saya pinggirkan. Saya taruh nasi kotak di depannya. Saya tidak tahu nasi itu dimakan apa tidak. Saya langsung lanjut pulang.
Karena ada keperluan sesuatu, sorenya saya ke Tegal. Saya melihat dia. Dia si orang gila itu. Dia menari di tempat yang berbeda. Pinggir jalan pantura raya Tegal. Mimik wajahnya juga tidak secerah biasanya. Wajahnya layu. Air mukanya sembab. Di depan tempat lapang ia menari. Terus berputar. Tempat lapang urukan yang dulunya sawah.
Beberapa hari setelah sore itu. Saya melihat tempat yang ke arah Tegal itu sedang dibangun perusahaan besar megah. Betapa kapitalisme menggilas segalanya, termasuk sawah. Kini saya sedikit tahu. Tentang orang gila itu.
******
Link cerpen saya: https://azizmuzayin.blogspot.com/2018/03/aku-tidak-gila.html
No comments:
Post a Comment