Friday, 28 June 2019

AKU PEROKOK




Tepat setelah semua lampu dimatikan kunyalakan sebatang rokok untuk menemani kopi yang baru saja kuseduh,  dengan bantuan sinar flash handphone ku hembuskan asap bundar dari mulutku. Sebagai upaya pelepas kalimat-kalimat yang ada di otakku saat ini. Ya walaupun agak sedikit memaksa.


Salah satu hal yang aku sesali sampai sekarang adalah menjadi seorang perokok. lebih tepatnya pecandu rokok. Awalnya cuma penasaran saat melihat bapak pada sore hari di depan rumah yang begitu nikmat menghisap perlahan sebatang rokok Djaja sambil ditemani kopi dan sepiring pisang goreng.


Pertamakali aku merokok yaitu saat aku kelas 6 SD. Di depan Rental play station langgananku ditemani tiga temanku, frist impresion yang kudapat saat merokok adalah pahit, ketir, dan sangit karena terkena mata. Aku memutuskan untuk tidak merokok.


Tiga tahun berlalu tanpa rokok dalam tubuhku, saat aku kelas 1 SMK melihat hampir semua temanku sudah menjadi perokok aktif lalu entah kenapa aku termotivasi ingin merokok lagi, padahal aku masih ingat betul rasa pahit pada rokok 3 tahun lalu. Dengan dukungan dan dorongan dari teman-teman akhirnya kuhisap lagi sebatang rokok sampai habis. Anehnya aku tidak merasakan pahit yang seperti dulu malahan terasa nikmat jika ditemani kopi hitam.


Mulai saat itu aku jadi sering merokok awalnya sehari sebatang, berikutnya sehari tiga batang. semakin lama semakin banyak. Uang jajanku habis hanya untuk rokok. Orang tuaku mulai curiga melihat celana celanaku yang bolong terkena latu rokok.


Suatu ketika, ibu memergoki aku sedang merokok di rumah salah satu teman. Tentu saja orang tua mana yang suka melihat anaknya merokok, apalagi masih sekolah.  Meski begitu, aku masih tetap merokok lagi dalam diam.


Menginjak kelas 2 SMK aku masih merokok. Bahkan aku sudah berani merokok di kantin sekolah sampai ahirnya aku sedang merokok sedirian di kantin. Apesnya ketahuan oleh seorang guru. Mungkin beda dengan sekolah lain. Peraturan di sekolahku jika ada murid yang ketahuan merokok akan dihukum dengan merokok juga di depan kelas dan ditonton banyak murid. Nahasnya rokok hukumannya bukan merek yang aku suka. Melainkan adalah rokok siong. Sejenis cerutu. memiliki bau seperti kemenyan. Malunya minta ampun. Jika kau membaca tulisanku Cinta Suwung (2). Tentu di sana ada perempuan yang aku puja.


Tidak cuma sampai disitu. Besoknya orang tuaku dipanggil sekolah. karena kelakuanku yang kemarin. Sampainya dirumah aku dimarahi habis-habisan oleh ibu dan bapak. Semarah apa pun ibu dan bapak, mereka tidak pernah main tangan. Jujur aku takut.


Sempat berhenti merokok beberapa bulan. Rasanya tidak enak sekali, apalagi kalau sehabis makan, adeeeeh.  Pantun dua baris yang masyhur kala itu "nabi Daud menginjak curut, bar mangan ora udud kecuuuuut".


Sekarang aku sudah lulus sekolah. Orang tuaku pun sudah memperbolehkanku merokok. Artinya aku sudah semakin sering merokok. Menjadi pecandu rokok.
Tidak akan ada kata akibat jika sebab tidak datang lebih awal. Tapi dalam benakku, apakah merokok itu sebuah kesalahan?

Thursday, 27 June 2019

Semarang


Beberapa hari yang lalu aku dijalankan oleh Tuhan ke Semarang untuk suatu tujuan. Selain Yogya dan Slawi, Semarang adalah salah satu daftar kota kenangan. Semarang bagiku bukan saja “Kalinya Banjir”, tapi tsunami puncak kerinduan. Tidak percaya? Silahkan duduk manis di Banjir Kanal saat senja temaram.

Oleh suatu tujuan inilah aku menadapatkan keberkahan. Disambut oleh dua teman baikku. Yang keduanya tidak saling mengenal. Tapi keduanya mempunyai persaamaan. Keduanya bernama Udin.

Udin pertama adalah seorang Copywriter. Bekerja di biro jasa periklanan. Dari jaman awal kuliah, dia memang seorang konseptor ulung. Lama aku tidak bertemu dengannya. Kami berjumpa di kedai kopi, di kawasan Kota Lama. Arah timur dari gereja Blendug. Penampilannya tidak banyak yang berubah. Masih seperti yang dulu. Nyentrik. Rambutnya gondrong pertanda bahwa ia memang seorang seniman. Meski dia selalu menolak jika dipanggil seniman. Sayang sekali. Perjumpaan aku dengan dia tidak bisa lama. Selain aku harus memenuhi tujuan. Dia juga sebenarnya sedang bekerja. Dia meluangkan waktunya untukku.

Udin kedua adalah seorang yang tidak jelas. Tidak jelas identitasnya. Tidak jelas alamatnya. Dia mengaku beragama Islam, tapi tidak jelas apa madzhabnya. Ehh.. apa masih penting madzhab di jaman posmo ini? Eh apa ini masih posmo?
Kembali lagi ke Udin kedua. Umurnya adalah 6 tahun di atas umurku. Meski begitu, wajahnya masih terlihat unyu. Masih terlihat sangat muda. Dia seorang pendekar. Pendekar dalam makna sesungguhnya. Dia pernah berkisah padaku nama perguruan silatnya, tapi aku lupa. Seingatku perguruan itu lahir di tanah Sunda. Suatu ketika saat dia latihan di malam hari, tubuhnya mental terbang ke angkasa. Ahhhh betapa aku sering dibuat kagum olehnya. Bukan kagum oleh kehebatan dia sebagai pendekar. Tapi keluhuran budi pekerti. Sikap tawadhu’ sebagai cermin rendah hati.

Udin kedua ini aku anggap sebagai guru. Guru segala tahu. Segala permasalahan sering aku tanyakan. Meski sering dia berkata “Haisss embuhh, Jis” sebagai jawaban. Tapi aku menilainya itu adalah sikap kerendahan hatinya. Ada banyak hal tentangnya yang masih sangat misteri.

Dari udin pertama dan udin kedua, sebenarnya aku banyak belajar. Semarang, tiap jengkalnya adalah kenangan.

Negara Kisruh

Saya tidak pandai menulis. Hanya saja mencoba menuangkan apa yang sedang menjadi pikiran saya belakangan ini. Tidak ada kawan berbagi pendapat. Sayapun suka mengutarakan pendapat saya dalam bentuk tulisan. Tidak hanya pendapat, terkadang kisah asmara juga. Maklum saya masih mahasiswi yang tergolong maba jadi masih sering lirak lirik kating yang berujung asmara. Aihhh.. 


Lanjut. Dalam menulis, kadang saya kesulitan untuk menceritakan kisah sendiri. Lalu saya hanya coba mengkritisi apa yang sedang terjadi. Sekarang ini. Di tahun 2019 yang telah berjalan setengah ini. Banyak sekali kisruh yang terjadi. Mulai dari isu-isu yang lama tentang agama sampai yang baru tentang politik sampai yang benar-benar masih terjadi berbarengan dengan kisruh politik sekarang ini kisruh PPDB. Penerimaan peserta didik baru. Tentu sudah viral dan Anda sudah pada tahu masalah ini. 


Ya, ppdb sistem zonasi. Ini banyak sekali mengundang pro kontra para orang tua siswa. Berita sekarangpun di tv, di media online semua isinya cuma dua, yang satu kisruh politik yang satunya kisruh ppdb ini. Miris sekali Indonesia ini. Penerimaan peserta didik baru saja kisruh. Pantas saja, pendidikannya kisruh, politik kisruh, benar-benar negara kisruh. Eitts, jangan emosi dulu.


Kembali lagi ke PPDB sistem zonasi ini. Nah, sistem zonasi ini sebenarnya melihat dari beberapa negara maju seperti Jepang. Di Jepang sudah sejak lama menggunakan sistem zonasi ini dan benar saja pendidikannya benar-benar maju disana. Di Indonesia ini sebenarnya apa sih yang membuat kisruh? Di Indonesia ini yang membuat kisruh sebenarnya adalah kurangnya sosialisasi tentang sistem zonasi ini.


Berbicara tentang sosialisasi. Ternyata dananya enggak sedikit loh. Terus kemana larinya dana tersebut? Wallahu A'lam. Saya enggak bisa ngasih pendapat masalah ini.
Oiya sedikit cerita, saya ini merupakan pengguna media sosial yang aktif. Maklum saya masih maba jadi kalau tidak ada tugas atau tidak ada rapat akhirnya cuma scroll sosmed, tidak ada DM apalagi PC. 


Akhir-akhir ini saat saya scroll sosmed saya yang sepi, namun terlintas banyak sekali saya dapati meme-meme seputar tentang PPDB zonasi ini. Salah duanya ada yang begini bunyinya; "Bagaimana mau menuntut ilmu sampai ke negeri china kalau dibatasi zonasi". Sedikit berfikir, benar juga. Lalu ada lagi yang bunyinya seperti ini : "Mulai tahun 2020, nikah dibatasi sistem zonasi". Waduh! Saya mulai berfikir keras, saya masih jomblo, 2020 juga masih jadi mahasiswa, jodohku terhalang sistem zonasi.


Namun, menteri pendidikan kita memberi pledoi: Sistem Zonasi, adalah era berakhirnya sekolah favorit. Maha benar netijen dengan celotehnya. Dan maha benar pak menyebut. Lama-lama saya pusing dengan segala kondisi yang ada. Aihhh Indonesia.

Saturday, 22 June 2019

Interpretasi Sohibu Baiti

Mungkin dia mengira aku bisa menulis. dalam batin aku itu saya sulit jika disuruh menulis. Mungkin jika disuruh mengarang sedikit saja. Mungkin. Sedikit tapi. Itu saja meloncat tidak jelas. Interpretasiku terhadap lagu Sohibu Baiti. Aku paham. Kira-kira artinya. Tapi jjka disuruh membaca ya grothal-grathul. Intinya Sohibu Baiti. Tidak asing sih, cuma tidak tau arti liriknya. Teringat, bahwa Baiti artinya rumah. Aku mulai mencari arti lirik sohibu Baiti di simbah yg tau segalanya. oooh.. Itu toh.. Sebenarnya pengalaman mendengar sohibu Baiti pertama ku dengar di Gambang Syafaat Semarang. Dilantunkan pada akhir acara, dengan diawali lampu dimatikan. Jamaah berdiri. Tenang dan khusyuk dipimpin simbah. "Mari jamaah semua kita kembali ke tuan rumah diri kita". Karena baru awal mendengar aku hanya mengikuti alunannya. Sama sekali tidak tahu artinya. Tapi ada sesuatu yang saya rasa. Kok Adeem . Kok ayem. Sohibu Baiti. Ya Sohibu baitii.. Dan seterusnya. Entah kenapa, mendengar lantunannya aku langsung terbawa sedu. Bahkan sedikit hiperbol. Aku mbrebes mili. Ingat dosa. Ingat orang tua, terutama ibu. Sungguh aku mbrebes mili. Semenjak itu, setiap hadir maiyahan. Selain kangen ketemu dan ilmu dari Mbah Nun. Hal yang ku nantikan adalah lantunan sohibu Baiti. Menurutku sohibu Baiti, sesuai dengan yg kupahami ya kembali ke tuan rumah atau pencipta kita. Allah SWT. Pokoknya dikembalikan. Tempat keluh kesah dan tempat harapan digantungkan. Karena Dialah yg memperjalankan/memimpin hati dan hidup. Menuntun. Menerangi. Memberikan rasa tenang dalam hidup. Dia lah penolong. Dia lah kerinduanku dan Dia lah tujuan akhirku. Dialah Awal dan dialah akhir. Semenjak itu aku sering menggunakan kata memperjalankan. Karena menurutku, kita sedang dalam perjalanan dan kita diperjalankan. Semenjak itu aku juga menghubungkan dengan man arofa nafsahu, faqod arofa robbahu. Barang siapa mengenal dirinya. Maka dia akan mengenal Tuhannya. Nah ini yang selalu aku cari. Yang belum aku temukan. Mungkin sudah. Mungkin sedikit. Bersambung. Aku ingin mencari persambungan Sohibu Baiti dengan kata yg pernah ku dengar dari mbah nun: kembali ke diri, sisakan ruang kosong dihati. -mungkin dia mengira aku bisa menulis- Pemalang, 22 Juni

Thursday, 20 June 2019

Cinta Suwung (2)


Jalan Suwung Para Penghayat


Banyak yang tidak tahu. Di balik maraknya pembangunan di Indonesia. Masih saja terdapat kelompok yang tidak diakui oleh negara. Meski mereka sudah membaur dengan masyarakat lainnya. Seperti halnya para penghayat atau pemeluk kepercayaan Sunda Wiwitan. Mereka merupakan kelompok agama yang masih memegang kepercayaan nenek moyang. Masih menjadi pelestari kebudayaan asli tanah lahir. tetapi sayang mereka masih saja terasing di negerinya sendiri. Mereka masih dianggap terbelakang. Tidak ada pengakuan resmi.


Tidak diakui ini pula membuat para penghayat kesulitan. Salah satunya jika ingin mengurus KTP mereka sulit saat disuruh mengisi agama. Dalam pengurusan surat-surat resmi mereka biasanya akan disuruh memilih salah satu agama dar 6 agama yang diakui di Indonesia (Islam, Katolik, Hindu, Budha, Konghuchu dan Protestan). Ini sangat menandakan adanya diskriminasi terhadap para penganut Sunda Wiwitan. Dari situlah banyak orang menganggap mereka tidak beragama.


Pernikahan mereka yang berdasarkan adat juga tidak tercatat di kantor sipil. Dan banyak yang menganggap pernikahan tidak bergama. Pendidikan juga semakin terbelakang karena banyak anak yang merasa bingung dan malu saat ditanya perihal agama.


Indonesia semakin maju. Demokrasi semakin kedepan. Seharusnya tidak adalagi yang menganggap mereka tidak beragama apalagi menganggap mereka sesat. Sunda wiwitan ini jelas bukan suatu agama yang dilarang oleh pemerintah. Mereka hanya belum diakui secara resmi oleh pemerintah, tetapi bukan berarti mereka salah. Karena untuk suatu agama atau kepercayaan semua orang bebas menentukan pilihannya sendiri. Bebas mau menaati agama A atau menjalankan agama B. Jika mereka selalu didiskriminasi apakah kita bisa menjamin kelangsungan adat budaya mereka yang juga adat budaya asli Indonesia.


Berhenti menganggap mereka berbeda dan berikan hak mereka sebagai warga negara Indonesia. Jangan persulit mereka saat mengurus surat-surat resmi hanya karena kepercayaan karena itu bisa berpengaruh juga pada pendidikan mereka. Coba bayangkan, sekarang ini seorang anak yang akan masuk Sekolah Dasar saja harus mempunyai akte kelahiran dan surat nikah orang tuanya, lalu bagaimana dengan nasib mereka yang tidak bisa mengurus akte kelahiran karena orang tuanya tidak mempunyai surat nikah sebab proses pernikahan mereka berdasarkan adat kepercayaan mereka.


Jalan di kota semakin bagus. Jalan di desa semakin mulus. Jalan para penghayat semakin suwung, sunyi, tak terurus. Kita lihat pemerintah akan melakukan apa untuk kelompok minoritas seperti ini.

Sunday, 16 June 2019

Orang Gila

Saya pernah nulis cerpen sekitar tahun 2014an. Cerpen tentang orang gila. Linknya ada di akhir tulisan. Cerpen ini saya tulis berdasarkan beberapa pengalaman. Pengalaman agak "mistis" yang sebenarnya malas saya ungkapkan.


Pengalaman pertama, adalah ketika saya diajak kakak sepupu ke suatu kabupaten di dataran tinggi. Di kabupaten tersebut konon ada seseorang Wali. Kekasih Allah. Meski latar belakang keluarga saya adalah NU tulen, dari dulu saya selalu mengedepankan logika. Saya seorang positivism dalam bahasa filsafatnya. Saya tidak percaya begitu saja.


Konon, Gus Dur pernah sowan ke tempat ini. Sang wali ini usianya sudah sangat tua. Ia seorang pertapa. Bertapa di lereng gunung. Bertahun-tahun. Tidak mandi. Tubuhnya dekil. Rambutnya tak beraturan. Gimbal. Oleh warga sekitar, dibuatkan gubug. Tenda dari terpal. Seorang warga yang disebut sebagai "kuncen" memberi makan saat sang wali membutuhkan. Saya tidak tahu bagaimana teknis komunikasinya. Karena sepamahaman saya, sang wali sama sekali tidak pernah berbicara.


Informasi yang saya dapatkan dari kakak sebelum sampai di kabupaten tersebut: Banyak orang dari luar kota sowan ke gubuknya, tapi tidak semua tamu ditemui oleh sang wali. Padahal, sang wali tidak pernah kemana-mana. Hanya berdiam diri di bawah tenda. Ada banyak faktor yang membuat tamu tidak bisa ditemui. Atau melihat sang wali. Diantaranya adalah orang yang hatinya sama sekali tidak ada kebaikan. Atau orang yang sedang berhadas besar. Atau terserah sang wali mau menemui apa tidak.


Suatu ketika ada rombongan bus. Mampir di gubuknya Wali. Semua anggota rombongan adalah orang NU kecuali satu orang saja yang Muhammadiyah. Ndilalah, semua anggota rombongan tidak ada yang bisa melihat sang Wali kecuali satu orang. Satu orang tersebut adalah orang Muhammadiyah.


Mendengar itu, sebenarnya saya biasa saja. Tidak sepenuhnya percaya. Tapi di dalam hati, ada kecemasan sendiri. Bagaimana jika saya tidak ditemui. Saya memang bukan orang baik. Tapi sebegitu tegakah Tuhan membuka kedok kejahatan saya. Betapa kotor kah hati saya.


Sesampainya di gubuk tersebut. Setelah berbasa-basi dengan "juru kuncen" dan kami dipersilahkan untuk masuk. Kami masuk ke gubuk. Hanya di pintu tenda. Alhamdulillah saya dapat melihat beliau! Usianya konon sudah diatas angka 100 tahun. Saya masih ingat dengan baik. Wajahnya putih. Tampan.


Saya masih ingat dengan baik: di bawah tenda biru itu, seorang lelaki yang sudah tidak muda lagi. Pakaiannya kumal. Hitam. Sekelilingnya sampah. Bau sampah menyengat di sekitar. Rambutnya berantakan. Tak beraturan. Gimbal. Ia malah seperti kebanyakan orang gila di pinggir jalan. Tapi wajahnya, sungguh sangat teduh. Putih bersih. Beliau tidak bisa diajak komunikasi verbal.


Saat aku ke sana, beliau sedang duduk. Berselimut sarung kumal. Bau menyengat. Tangannya seperti orang kedinginan. Bergetar. Dari mulutnya terdengar suara. Seperti merapalkan mantra. Saya tidak bisa mendengar secara pasti suara apa yang keluar dari mulutnya.


Kami uluk salam. Yang tidak mungkin dijawab. Tapi mungkin saja dijawab, akan tetapi gelombang suara itu tidak mampu terdengar oleh telinga kami. Saat itu saya belum menikah. Saya hanya minta didoakan kebahagiaan dunia akhirat saja. Sang wali tidak menjawab. Tangannya terus bergetar.


Dalam perjalanan pulang. Saya tiba-tiba ada semacam kerinduan. Kerinduan yang sangat aneh. Air mata tidak terasa meleleh. Saya tidak tahu beliau seorang wali apa bukan. Karena saya sendiri bukan wali. Sedangkan yang mengetahui bahwa seorang wali adalah wali. Kok tega-teganya Allah menempatkan kekasihnya seperti orang gila.

*******

Pengalaman selanjutnya. Rumah saya di dekat jalan Pantura. Antara Tegal dan Pemalang. 30 menit ke Pemalang. 30 menit juga ke Tegal. Di jalanan besar seperti Pantura tentu saja sangat mudah menjumpai orang gila. Saya akrab dengan wajah-wajah orang gila di jalanan. Apalagi di Senayan. Ehh~


Tapi ada satu orang gila yang membuatku harus berfikir keras. Dia sebenarnya biasa saja. Seperti orang gila pada umumnya: pakaian compang-camping, tubuh dekil, pokoknya serba semrawut. Tapi ada yang beda dengan dia. Dia selalu berputar-putar. Seolah sedang menari. Menari seperti tari sufi!


Dari arah Pemalang. Ketika saya pulang bekerja. Saya melihat dia menari. Lokasi dia menari sangat dekat dengan kabupaten Pemalang. Berkali-kali saya melihat dia seperti itu. biasa saja. Tapi ada momen dimana dia tidak menari. Dia berdiam diri. Setelah saya perhatikan secara sungguh-sungguh: Dia menari di pinggir jalan yang dekat dengan sawah (di jalan Pantura masih ada sawah loh ya...).


Orang gila tersebut akan menari pada waktu-waktu tertentu. Yaitu saat masa tanam. Ketika padi sudah ditanam dia akan berhenti menari. Menari lagi saat padi mulai menguning hingga masa panen tiba. Saat menari, wajahnya sumringah. Bahagia.


Suatu siang, pulang bekerja dari arah Pemalang saya melihatnya terduduk lemas. Ndilalah saya bawa makanan. Motor saya pinggirkan. Saya taruh nasi kotak di depannya. Saya tidak tahu nasi itu dimakan apa tidak. Saya langsung lanjut pulang.


Karena ada keperluan sesuatu, sorenya saya ke Tegal. Saya melihat dia. Dia si orang gila itu. Dia menari di tempat yang berbeda. Pinggir jalan pantura raya Tegal. Mimik wajahnya juga tidak secerah biasanya. Wajahnya layu. Air mukanya sembab. Di depan tempat lapang ia menari. Terus berputar. Tempat lapang urukan yang dulunya sawah.


Beberapa hari setelah sore itu. Saya melihat tempat yang ke arah Tegal itu sedang dibangun perusahaan besar megah. Betapa kapitalisme menggilas segalanya, termasuk sawah. Kini saya sedikit tahu. Tentang orang gila itu.

******
Link cerpen saya: https://azizmuzayin.blogspot.com/2018/03/aku-tidak-gila.html

Thursday, 13 June 2019

CINTA SUWUNG

CINTA SUWUNG
Hal yang rumit telah menimpa saya akhir ini. dimana saya harus bertahan dalam sebuah tekanan. Lagi. Saya sudah lulus sekolah. Sekarang bekerja. Tapi tekanan itu masih sama.


Bedanya jika waktu sekolah saya dalam tekanan: dituntut berfikir untuk bisa menjawab pertanyaan yang telah dipelajari. Sekarang. Saya harus bisa menjawab dan mengingat pernyataan yang telah kualami. Yang sama sekali tidak pernah diajari. Cinta.


Kita semua setuju. Di dunia ini terdapat ribuan kata. Setiap kata memiliki makna yang berbeda. Tapi ada dua kata yang berbeda, baik dari segi pengucapan ataupun maknanya. tetapi bagi saya sangat berdekatan. Salah satunya CINTA dan SUWUNG.


Cinta bagi saya adalah sebuah perasaan positif yang terdapat dalam diri manusia. Tertuju untuk kepada manusia lain. Atau objek lain yang ada disekitarnya. Sedangkan suwung adalah kekosongan. Tapi bagaimana jika cinta itu adalah kekosongan sendiri.


Kita sering melihat berita di TV, koran, dan internet banyak orang yang frustasi karena cinta. Ada yang menyiksa diri. Bunuh diri. bahkan ada yang sempat membunuh orang yang dicintainya. Itu semua dikarenakan orang tersebut terjebak dalam keegoisan cinta. Hatinya hancur. Hampa. kosong karena harapanya yang pupus dan dipatahkan sehingga dia merasa dialah orang yang paling sakit hati (sendiri) di dunia ini.


Seperti halnya orang lain. Saya juga pernah merasakan patah hati berkepanjangan. Semuanya ada pada diri kita sendiri apakah kita akan terus larut sampai ahirnya hanyut dalam kesedihan. Atau sebaliknya. Kita akan bangkit dari keterpurukan tersebut dan bisa mengendalikan diri sehingga mampu menemukan esensi diri dalam kesuwungan sejati.


Cinta itu seperti halnya suwung. Butuh keikhlasan, kesunyian. Maka tidak salah, kata Patkai dalam film kera sakti, "oh cinta, deritanya tiada akhir.

Monday, 10 June 2019

Egois

Pernah Anda melihat tulisan di kaca belakang mobil : The real men used three pedals? Atau sebaliknya “hari gini masih oper gigi?” atau “baiti janati” di kaca rumah. Atau supermasi “Tegal laka-laka”. pernah ke luar negeri dan ikut simposium diaspora indonesia?


Sebelum kita bahas, kita akan berbicara tentang egoisme. Egoisme bisa diartikan sebagai sikap ke’aku’an. Mengharuskan segala hal di luar diri untuk tunduk kepadanya. Dalam teks tentang teori egoisme, sikap egoisme adalah sikap yang mengganggap sesuatu itu baik kalau menguntungkan diri, dan menganggap sesuatu itu buruk kalau tidak menguntungkan dia. Dia merasa lebih hebat. Lebih tinggi. Lebih benar. Pemegang legitimasi kebenaran. Paling berhak mendapatkan surga. Orang lain tidak ada apa-apanya dari dia. Egois cikal bakal dari narsis.


Selama ini kita diberi pemahaman tentang egoisme dengan arti yang negatif: sikap menang sendiri, sikap harus untung sendiri, sikap masa bodoh dengan yang lain, semua hal yang mengarah pada sikap harus untung untuk diri sendiri.


Tidak bisa dipungkiri. Lingkungan sangat memengaruhi. Apa yang kita pahami dan apa yang kita yakini. Adalah pengaruh lingkungan. Kalau tidak berapa di dalam lingkungan yang telah terbiasa saling berbagi. Maka kita akan terbisa dengan hal saling berbagi. Sebaliknya kalau kita hidup berkembang dalam lingkuangan yang serba perhitungan kapitalisitik: mau membantu tetangga yang sakit dihitung. Mau membantu teman perhitungan. Maka mental yang akan tertanam di otak bawah sadar kita dianggap wajar dan benar.


Apakah Anda punya teman yang bakhil. kemudian Anda juga pelit kepada dia? Dengan alasan; dia saja perhitungan kepada saya. Kenapa saya harus berderma kepada dia. Padahal Anda sendiri sebelumnya adalah orang yang sangat loman dalam hal membantu teman. Itu membuktikan bahwa lingkungan sangat berpengaruh. Hanya satu teman saja mampu merubah sikap anda. Apalagi kalau Anda di tempatkan pada lingkungan yang hampir semua orang seperti itu. Contoh itu (sikap pelit) hanya salah satu saja. Belum sikap-sikap egois yang lain.

Egois itu, jauh dari sikap suwung.

Saturday, 8 June 2019

Belajar suwung

Suwung itu kosa kata dalam bahasa Jawa. Artinya kosong. Nihil. Hampa. Sunyi. Sepi. Setidaknya menurut saya kata suwung itu diklasifikasi menjadi 3. Pertama, Suwung itu Majnun. Edan. Gemblung. Orang yang menderita gangguan jiwa sering mengalami kesunyian. Dia tidak tahu siapa dirinya. Apa yang diinginkan. Untuk apa dia hidup. Kesadaran akan diri dalam lingkungannya tidak ada sama sekali. Tatapan dan pandangannya kosong. Suwung.


Kedua. Suwung dimaknai sebagai kosong, nihil, tanpa bentuk dan abstrak. Seseorang yang berada dalam kondisi suwung, dia mengalami kenihilan dalam alam pikir dan kehendaknya. Dalam bahasa Arab dinamai Syak. Ragu. Kekosongan ini menjadikan dirinya netral. Tidak berpihak. Tidak berkemauan untuk menonjolkan diri. Tidak mengikuti arus. Pesuwung ini berpendapat; segala yang berada di sekitarnya berjalan sebagaimana alam menghendakinya. Dirinya sendiri tidak ikut serta dalam hiruk pikuk dunia. Pesuwung berdiam diri, berkontemplasi dan menyibukkan dengan dirinya sendiri. Kalau ada gejolak di luar, dia memahami. Namun tidak bereaksi.


Ketiga. Suwung atau kekosongan yang bisa mengendalikan diri dengan sempurna. Ia sadar akan kesejatian dirinya. Pesuwung jenis ini telah mencapai tahapa akhir dalam pengendalian diri yang  luar biasa. Dia bisa mengontrol diri secara sempurna sehingga dia mengetahui secara pasti. Kapan dia harus berbuat dan kapan dia harus menahan diri. Kesempurnaan pengendalian diri ini menjadikan dirinya memiliki kedaulatan yang hakiki atas hidup. Manusia suwung jenis ini mengetahui secara pasti peran dirinya dalam jagad semesta. Dia mampu menempatkan dirinya secara tepat. Dia menjalin komunikasi yang intens dengan diri sendiri, dengan manusia, tumbuhan, hewan dan dengan siapa saja dan juga dengan sang hyang Kuasa.


Lahirnya blog ini, adalah berawal dari kegelisahan saya. Ketika media sosial semakin bising. Suwung bisa jadi alternatif. Selain itu blog ini adalah dalam rangka belajar suwung. Tidak tahu suwung kelas yang mana. Bisa jadi suwung yang majnun. Yang penting  suwung.


Oh iya, blog Suwung ini tidak saya kelola secara pribadi. Tapi oleh banyak teman. Teman-teman juga boleh berkontribusi dalam blog ini. Agar kita suwung berjamaah. Lohhhh kok suwung bisa berjamaah, Yah? Yah bisa lahhh..