Thursday, 27 June 2019

Semarang


Beberapa hari yang lalu aku dijalankan oleh Tuhan ke Semarang untuk suatu tujuan. Selain Yogya dan Slawi, Semarang adalah salah satu daftar kota kenangan. Semarang bagiku bukan saja “Kalinya Banjir”, tapi tsunami puncak kerinduan. Tidak percaya? Silahkan duduk manis di Banjir Kanal saat senja temaram.

Oleh suatu tujuan inilah aku menadapatkan keberkahan. Disambut oleh dua teman baikku. Yang keduanya tidak saling mengenal. Tapi keduanya mempunyai persaamaan. Keduanya bernama Udin.

Udin pertama adalah seorang Copywriter. Bekerja di biro jasa periklanan. Dari jaman awal kuliah, dia memang seorang konseptor ulung. Lama aku tidak bertemu dengannya. Kami berjumpa di kedai kopi, di kawasan Kota Lama. Arah timur dari gereja Blendug. Penampilannya tidak banyak yang berubah. Masih seperti yang dulu. Nyentrik. Rambutnya gondrong pertanda bahwa ia memang seorang seniman. Meski dia selalu menolak jika dipanggil seniman. Sayang sekali. Perjumpaan aku dengan dia tidak bisa lama. Selain aku harus memenuhi tujuan. Dia juga sebenarnya sedang bekerja. Dia meluangkan waktunya untukku.

Udin kedua adalah seorang yang tidak jelas. Tidak jelas identitasnya. Tidak jelas alamatnya. Dia mengaku beragama Islam, tapi tidak jelas apa madzhabnya. Ehh.. apa masih penting madzhab di jaman posmo ini? Eh apa ini masih posmo?
Kembali lagi ke Udin kedua. Umurnya adalah 6 tahun di atas umurku. Meski begitu, wajahnya masih terlihat unyu. Masih terlihat sangat muda. Dia seorang pendekar. Pendekar dalam makna sesungguhnya. Dia pernah berkisah padaku nama perguruan silatnya, tapi aku lupa. Seingatku perguruan itu lahir di tanah Sunda. Suatu ketika saat dia latihan di malam hari, tubuhnya mental terbang ke angkasa. Ahhhh betapa aku sering dibuat kagum olehnya. Bukan kagum oleh kehebatan dia sebagai pendekar. Tapi keluhuran budi pekerti. Sikap tawadhu’ sebagai cermin rendah hati.

Udin kedua ini aku anggap sebagai guru. Guru segala tahu. Segala permasalahan sering aku tanyakan. Meski sering dia berkata “Haisss embuhh, Jis” sebagai jawaban. Tapi aku menilainya itu adalah sikap kerendahan hatinya. Ada banyak hal tentangnya yang masih sangat misteri.

Dari udin pertama dan udin kedua, sebenarnya aku banyak belajar. Semarang, tiap jengkalnya adalah kenangan.

No comments:

Post a Comment