Beberapa hari yang lalu aku
dijalankan oleh Tuhan ke Semarang untuk suatu tujuan. Selain Yogya dan Slawi, Semarang
adalah salah satu daftar kota kenangan. Semarang bagiku bukan saja “Kalinya
Banjir”, tapi tsunami puncak kerinduan. Tidak percaya? Silahkan duduk manis di Banjir
Kanal saat senja temaram.
Oleh suatu tujuan inilah aku
menadapatkan keberkahan. Disambut oleh dua teman baikku. Yang keduanya tidak
saling mengenal. Tapi keduanya mempunyai persaamaan. Keduanya bernama Udin.
Udin pertama adalah seorang
Copywriter. Bekerja di biro jasa periklanan. Dari jaman awal kuliah, dia memang
seorang konseptor ulung. Lama aku tidak bertemu dengannya. Kami berjumpa di
kedai kopi, di kawasan Kota Lama. Arah timur dari gereja Blendug. Penampilannya
tidak banyak yang berubah. Masih seperti yang dulu. Nyentrik. Rambutnya gondrong
pertanda bahwa ia memang seorang seniman. Meski dia selalu menolak jika
dipanggil seniman. Sayang sekali. Perjumpaan aku dengan dia tidak bisa lama. Selain
aku harus memenuhi tujuan. Dia juga sebenarnya sedang bekerja. Dia meluangkan
waktunya untukku.
Udin kedua adalah seorang yang
tidak jelas. Tidak jelas identitasnya. Tidak jelas alamatnya. Dia mengaku
beragama Islam, tapi tidak jelas apa madzhabnya. Ehh.. apa masih penting
madzhab di jaman posmo ini? Eh apa ini masih posmo?
Kembali lagi ke Udin kedua. Umurnya
adalah 6 tahun di atas umurku. Meski begitu, wajahnya masih terlihat unyu. Masih
terlihat sangat muda. Dia seorang pendekar. Pendekar dalam makna sesungguhnya. Dia
pernah berkisah padaku nama perguruan silatnya, tapi aku lupa. Seingatku perguruan
itu lahir di tanah Sunda. Suatu ketika saat dia latihan di malam hari, tubuhnya
mental terbang ke angkasa. Ahhhh betapa aku sering dibuat kagum olehnya. Bukan kagum
oleh kehebatan dia sebagai pendekar. Tapi keluhuran budi pekerti. Sikap tawadhu’
sebagai cermin rendah hati.
Udin kedua ini aku anggap sebagai
guru. Guru segala tahu. Segala permasalahan sering aku tanyakan. Meski sering
dia berkata “Haisss embuhh, Jis” sebagai jawaban. Tapi aku menilainya itu
adalah sikap kerendahan hatinya. Ada banyak hal tentangnya yang masih sangat
misteri.
Dari udin pertama dan udin kedua,
sebenarnya aku banyak belajar. Semarang, tiap jengkalnya adalah kenangan.
No comments:
Post a Comment