Friday, 28 June 2019

AKU PEROKOK




Tepat setelah semua lampu dimatikan kunyalakan sebatang rokok untuk menemani kopi yang baru saja kuseduh,  dengan bantuan sinar flash handphone ku hembuskan asap bundar dari mulutku. Sebagai upaya pelepas kalimat-kalimat yang ada di otakku saat ini. Ya walaupun agak sedikit memaksa.


Salah satu hal yang aku sesali sampai sekarang adalah menjadi seorang perokok. lebih tepatnya pecandu rokok. Awalnya cuma penasaran saat melihat bapak pada sore hari di depan rumah yang begitu nikmat menghisap perlahan sebatang rokok Djaja sambil ditemani kopi dan sepiring pisang goreng.


Pertamakali aku merokok yaitu saat aku kelas 6 SD. Di depan Rental play station langgananku ditemani tiga temanku, frist impresion yang kudapat saat merokok adalah pahit, ketir, dan sangit karena terkena mata. Aku memutuskan untuk tidak merokok.


Tiga tahun berlalu tanpa rokok dalam tubuhku, saat aku kelas 1 SMK melihat hampir semua temanku sudah menjadi perokok aktif lalu entah kenapa aku termotivasi ingin merokok lagi, padahal aku masih ingat betul rasa pahit pada rokok 3 tahun lalu. Dengan dukungan dan dorongan dari teman-teman akhirnya kuhisap lagi sebatang rokok sampai habis. Anehnya aku tidak merasakan pahit yang seperti dulu malahan terasa nikmat jika ditemani kopi hitam.


Mulai saat itu aku jadi sering merokok awalnya sehari sebatang, berikutnya sehari tiga batang. semakin lama semakin banyak. Uang jajanku habis hanya untuk rokok. Orang tuaku mulai curiga melihat celana celanaku yang bolong terkena latu rokok.


Suatu ketika, ibu memergoki aku sedang merokok di rumah salah satu teman. Tentu saja orang tua mana yang suka melihat anaknya merokok, apalagi masih sekolah.  Meski begitu, aku masih tetap merokok lagi dalam diam.


Menginjak kelas 2 SMK aku masih merokok. Bahkan aku sudah berani merokok di kantin sekolah sampai ahirnya aku sedang merokok sedirian di kantin. Apesnya ketahuan oleh seorang guru. Mungkin beda dengan sekolah lain. Peraturan di sekolahku jika ada murid yang ketahuan merokok akan dihukum dengan merokok juga di depan kelas dan ditonton banyak murid. Nahasnya rokok hukumannya bukan merek yang aku suka. Melainkan adalah rokok siong. Sejenis cerutu. memiliki bau seperti kemenyan. Malunya minta ampun. Jika kau membaca tulisanku Cinta Suwung (2). Tentu di sana ada perempuan yang aku puja.


Tidak cuma sampai disitu. Besoknya orang tuaku dipanggil sekolah. karena kelakuanku yang kemarin. Sampainya dirumah aku dimarahi habis-habisan oleh ibu dan bapak. Semarah apa pun ibu dan bapak, mereka tidak pernah main tangan. Jujur aku takut.


Sempat berhenti merokok beberapa bulan. Rasanya tidak enak sekali, apalagi kalau sehabis makan, adeeeeh.  Pantun dua baris yang masyhur kala itu "nabi Daud menginjak curut, bar mangan ora udud kecuuuuut".


Sekarang aku sudah lulus sekolah. Orang tuaku pun sudah memperbolehkanku merokok. Artinya aku sudah semakin sering merokok. Menjadi pecandu rokok.
Tidak akan ada kata akibat jika sebab tidak datang lebih awal. Tapi dalam benakku, apakah merokok itu sebuah kesalahan?

1 comment: