Friday, 5 July 2019

PEKERJAAN



Mencari pekerjaan adalah sebuah tantangan yang nyata baik bagi kamu yang baru lulus sekolah atau bagi kamu yang pernah terjun didunia kerja, tentu dengan tingginya kompetisi rasanya mustahil untuk mendapatkan pekerjaaan impian. Sekarang ini banyak orang berkompetisi dalam hal apapun  bahkan ada yang mengatakan "sekarang mencari pekerjaan itu susah, seperti ingin memacari kembang desa, susah dan banyak sainganya."

Aku pernah menjadi orang yang beruntung, tahun lalu setelah lulus sekolah tepatnya H +1 idul fitri 2018 aku diikutkan oleh temanku namanya Gilang untuk bekerja diperusahaan kuliner di Surabaya yang tentunya jauh dari tempat asalku Pemalang, dengan bantuan Gilang yang sudah menjadi supervisor waktu itu aku dipermudah untuk masuk dan langsung bekerja beberapa hari berikutnya, padahal untuk dipanggil interview saja biasanya memerlukan waktu beberapa minggu sedari menaruh lamaran di perusahaan itu. Lalu aku yang baru naruh lamaran saja pada hari itu juga langsung di interview, ajaib bukan,?

Sedikit gambaran, aku bekerja disebuah perusahaan kuliner yang menjual produk berupa fastfood seperti kentucki, burger, sosis, dll. Yang kini sudah mempunyai ratusan cabang di JABODETABEK dan Jawa Timur. Hampir mirip seperti roket chiken tetapi ini berbentuk kontener berukuran sekitar 5x10 meter lebarnya, yang hampir semuanya berdiri didepan alfamidi.

Aku dan Gilang berteman sejak kecil tidak heran jika kami begitu akrab dan sering bersama padahal divisi dan jabatan kami jauh berbeda dia supervisor dan aku masih training, melihat kejadian seperti itu membuat banyak karyawan iri dan membuat kesimpulan sendiri ada yang mengatakan caper terhadap atasan, penjilat lah, dan lain sebagainya. Tapi kujalani biasa biasa saja.

Pada awalnya aku berfikir jika pekerjaanku hanya goreng ayam, bakar sosis, buat burger, bersih bersih atau hal sepele lainya. Ternyata tidak, jika seperti itu terus gajiku tak akan naik, sampai akhirnya aku berniat untuk belajar laporan penjualan yang dimana itu adalah tugas kepala toko, tak sesulit yang kubayangkan mengingat aku lulusan akuntasi tentu sudah tidak kaget dengan berapa banyak angka nol dibalik sebuah angka. Makasih bu Ela 😊

Singkat cerita di bulan ketiga bekerja aku dipromosikan untuk naik jabatan menjadi wakil kepala toko tentu dengan sedikit bantuan Gilang lagi, meski begitu aku tetap tidak terima karena banyak yang mengatakan "leader karbitan". Itu membuatku bekerja lebih giat lagi untuk membuktikanya. Dan perusahaan melihat kinerjaku alhamdulillah bulan berikutnya aku di angkat menjadi kepala toko di cabang yang berbeda, kayaknya si bantuan Gilang lagi.

Sistem perusahaan kami yaitu setiap minggu membuka cabang baru dan setiap 2 minggu sekali akan ada pergantian karyawan dan hanya kepala toko yang menetap, jika ada anak training yang baru masuk maka harus ada karyawan lama yang dipindahkan kecabang lainya, dan yang menangani perpindahan karyawan adalah supervisor, sales juga mempengaruhi jumlah karyawan semakin sedikit sales nya maka sedikit pula karyawanya begitu pula sebaliknya.

Aku dipercaya untuk memegang toko yang bermasalah, kabarnya sih kepala toko yang lama resign karena hal yang membuatnya tidak nyaman. Mendengar kabar tersebut aku meminta agar semua karyawan disitu diganti dengan karyawan lain, secara gitu loh mulai dari nol aja susah disuruh mulai dari minus. Emoh yah..

Menjadi kepala toko tidak seenak yang kubayangkan tanggung jawab terhadap toko dan karyawan semakin besar, apalagi jika ada crew yang usianya jauh lebih tua dariku agak canggung jika harus menyuruhnya.

Aku menyesal karna dulu aku hanya fokus belajar tentang strategi penjualan untuk menaikan omset dan meraih profit, sampai aku lupa betapa pentingnya belajar untuk menjadi pemimpin dan tata cara memperlakukan seorang karyawan.

Tiga bulan menjadi kepala toko berjalan lancar saja, sampai tiba disaat perusahaan sudah memiliki 200 cabang dan memutuskan untuk berhenti sementara membuka cabang baru, artinya selama sebulan tidak ada karyawan yang dipindahkan. Sialnya waktu itu aku sedang memiliki crew yang kurang bisa diajak kerja sama, salah seorang karyawan yang paling kupercaya berhasil menghentikan karirku dengan cara mengambil uang sales dengan jumlah yang cukup besar, akupun tidak punya bukti siapa yang mengambilnya alhasil sebagai kepala toko akulah yang menanggung semuanya plus diturunkan jabatan menjadi karyawan biasa lagi.

Beberapa hari kemudian dia menelfonku via wa untuk meminta maaf dan mengakui perbuatanya. Dia mampu mengembalikan uang yang diambilnya tapi dia tidak bisa mengembalikan jabatanku dan namaku yang terlanjur amis.

Berbeda dengan sebelumya meskipun aku pernah menjadi karyawan biasa tapi entah kenapa semenjak kejadian itu membuat pekerjaanku terasa lebih berat. Jika dulu aku hanya dikatai penjilat supervisor tapi sekarang banyak yang mengataiku kapten gagal, bahkan ada yang mengataiku pencuri. Waktu itu aku disuruh kapten baruku untuk meminjam bahan baku di cabang lainya, dan ketika datang aku disambut dengan kata kata "ehh kamu zidan yah, kapten yang diturunin gara gara tokonya minus" dalam batinku "DJIANCOOOK,!!!"

Hal hal seperti itu yang membuatku semakin tidak nyaman, sampai akhirnya aku memutuskan untuk resign. Tapi ketika keluarpun aku tidak langsung pulang kampung, berbekal sedikit tabungan aku mencoba hal baru dengan membuka usaha pecel lele di sidoarjo dengan bantuan Slamet temannya Gilang. Tapi tuhan berkata lain, usahaku berujung tragis ibarat tikar baru digelar, ehh disuruh gulung lagi. Aku pernah membaca kutipan kata kata dari Bob sadino "untuk mejadi usahawan sukses kita hanya butuh dua faktor, yang pertama faktor skill/kemampuan dan yang kedua faktor luck/keberuntungan" sayangnya kartu keberuntunganku sedah dipakai beberapa kali sebelumnya.

Tentunya hal tersebut tidak membuat tekadku terhenti. Teringat agenda perjalanan sunyi, jalan para ninja. Jika sebelumnya aku gagal di arah timur maka sebaliknya sekarang aku harus menuju ke arah barat. Mungkin sekarang merantau adalah keinginanku bahkan Jika ada pekerjaan yang layak secara finansial di Pemalang. Aku tetap akan merantau karena menurutku perputaran uang di kota besar lebih cepat dan Lebih menghasilkan. Berbeda dengan perputaran uang di kampung.

Meskipun pada ahirnya aku akan kembali.

Thursday, 4 July 2019

Aziz Muzayin: Bu Nyai

Aziz Muzayin: Bu Nyai: Percaya tidak percaya. Sebuah kekuatan itu ada. Nyata. Kekuatan itu tidak bisa ditangkap indra. Tidak bisa dipegang, tak kasat mata. Kekuata...

Wednesday, 3 July 2019

TNI dan superiornya

Karena tuntutan suatu hal. Beberapa hari yang lalu tuntas sudah, aku terhitung bukan akademisi lagi. Aku harus mengundurkan diri. Segala hal yang berkaitan dengan akademik, saya tinggalkan. Tapi tidak mengurangi rasa cintaku pada sebuah pendidikan. Di sana aku berkembang. Di sana pula aku kenal dengan segala kejahatan.


Pendidikan formal. Tak ubahnya seperti anekdot. Cerita dari masa ke masa sebagai lulucon hiburan. Mendengar mendikbud akan menggandeng TNI untuk ajarkan jiwa korsa. Aku tertawa. Sejak lama digemborkan bahwa militer lebih disiplin dan lebih nasionalis dari sipil. Punya solidaritas dan kehormatan yang kuat dalam korps (jiwa korsa). Ia juga manusia yang serba bisa di bidang pekerjaan apapun. Faktanya: omong kosong.


Ini bukan perihal sentimentil perasaanku terhadap militer. Bukan. Apakah kedisiplinan itu hanya milik militer? Yang jelas, setiap profesi punya disiplin. Konon disiplinnya militer taruhannya nyawa. Memangnya sipil seperti bidan desa tidak melibatkan taruhan nyawa? Atau penjaga palang pintu kereta.
Parahnya, disiplin dikaitkan dengan kerapihan rambut cepak atau kebersihan markas barak. apalagi baris berbaris.


Klaim superior sudah biasa di semua kalangan. Sesama muslim saling mengklaim bahwa jalan berislamnya yang paling benar. Muncullah golongan takfiri. Orang-orang "kiri" pun sama. Mengaku dirinya paling kiri. Orang "kanan" juga sama.


Aku teringat kisah semasa bapakku nyantri. Bilik (kamar) harus selalu rapi. Bangun pagi. Shalat jamaah lima waktu sehari. Tidak boleh terlambat. Takzir hukuman pesantren ketat. Tidak tahu santri sekarang. Kenapa kita tidak saling menundukkan kepala. Bahwa semuanya kita sama. Tidak ada kelas yang memisahkan manusia. Tidak ada superior di atas bumi Tuhan yang maha Esa.

Tuesday, 2 July 2019

Wanita, Anjing dan Masjid. Siapa yang Sebenarnya Gila.

Saya benar-benar mahasiswa yang buta akan hal-hal viral. Ya, apalagi akhir-akhir ini. Berdalih dengan alasan banyak UAS, banyak tugas lalu banyak rapat yang dibahas.

Sedikit pengenal saja. Saya memang suka Organisasi disini alias kura-kura. Kuliah rapat kuliah rapat. Tapi disinilah kesalahan saya. Kurang bisanya membagi waktu. Bukan hanya tertinggal berita-berita viral diluaran sana sampai tugaspun terkadang tertinggal.

Mengenai hal viral diluaran sana. Baru-baru ini baru saja ada hal viral yang sebelumnya saya juga tidak tahu. Bahkan tidak mendengarnya sama sekali. Sampai saya diminta menanggapi kasus ini oleh seorang guru saya.

Sayapun akhirnya mulai berkelana di dunia maya sampai bertanya pada mbah serba tahu. Akhirnya saya menemukan beberapa artikel disana. Ya, yang lagi viral ini masalah seorang wanita yang membawa anjingnya masuk ke dalam sebuah masjid di daerah Bogor sana.

Tentu saja, ini menjadikan banyak pihak yang mengomentari sampai-sampai wanita ini dianggap menistakan agama. Dari laporan yang diterima, wanita ini memiliki gangguan jiwa. Tapi anehnya dia divonis 5 tahun penjara dengan tuduhan penistaan agama. Bagaimana mau menistakan agama? Tuhan saja dia tidak tahu kalau menang gila. Orang gila hal yang wajib seperti ibadah saja boleh ditinggalkan. Bagaimana dia bisa berfikir ini menistakan agama kalau dia berfikir saja tidak tahu.

Harusnya jika memang gila, bukan dimasukan ke jeruji besi tetapi dimasukan ke rumah sakit jiwa. Terkadang saya heran. Saya curiga, jangan-jangan yang memberi tuduhan seperti itu juga sebenarnya mempunyai gangguan jiwa.

Banyak pihak yang menganggap bahwa wanita ini tidak mempunyai toleran terhadap umat muslim. Ya, dari beberapa artikel yang saya baca disitu menyebutkan bahwa wanita ini beragama Katolik. Bagaimana bisa berfikir toleran kalau-kalau fikirannya saja tidak ada alias gila.

Benar-benar. Ini membuat saya berfikir keras. Saya memang muslim. Tetapi saya memang tidak suka orang-orang yang fanatik. Saya fikir orang-orang yang berkomentar dan memberi tuduhan menistakan agama ini tidak logis kalau dilihat dari fakta bahwa wanita ini adalah gila.

Saya tidak membenarkan wanita yang membawa anjing ke dalam masjid ini, tetapi saya juga tidak membenarkan orang-orang yang dengan gampangnya memberi vonis. Bolehlah mereka menganggap diri mereka membela islam. Tapi ada fakta lain yang tidak boleh dilewatkan. Jangan sampai otak kita malah terlihat suwung.

Jika wanita ini memang gila apakah seperti ini cara memanusiakan orang gila?

Setelah ramai masalah pemilu. Lalu ramai masalah orang gila. Orang stres. Orang frustasi. Apakah ini sebab dari pemilu kemarin atau ini hanyalah isu pengalihan saja.

Friday, 28 June 2019

AKU PEROKOK




Tepat setelah semua lampu dimatikan kunyalakan sebatang rokok untuk menemani kopi yang baru saja kuseduh,  dengan bantuan sinar flash handphone ku hembuskan asap bundar dari mulutku. Sebagai upaya pelepas kalimat-kalimat yang ada di otakku saat ini. Ya walaupun agak sedikit memaksa.


Salah satu hal yang aku sesali sampai sekarang adalah menjadi seorang perokok. lebih tepatnya pecandu rokok. Awalnya cuma penasaran saat melihat bapak pada sore hari di depan rumah yang begitu nikmat menghisap perlahan sebatang rokok Djaja sambil ditemani kopi dan sepiring pisang goreng.


Pertamakali aku merokok yaitu saat aku kelas 6 SD. Di depan Rental play station langgananku ditemani tiga temanku, frist impresion yang kudapat saat merokok adalah pahit, ketir, dan sangit karena terkena mata. Aku memutuskan untuk tidak merokok.


Tiga tahun berlalu tanpa rokok dalam tubuhku, saat aku kelas 1 SMK melihat hampir semua temanku sudah menjadi perokok aktif lalu entah kenapa aku termotivasi ingin merokok lagi, padahal aku masih ingat betul rasa pahit pada rokok 3 tahun lalu. Dengan dukungan dan dorongan dari teman-teman akhirnya kuhisap lagi sebatang rokok sampai habis. Anehnya aku tidak merasakan pahit yang seperti dulu malahan terasa nikmat jika ditemani kopi hitam.


Mulai saat itu aku jadi sering merokok awalnya sehari sebatang, berikutnya sehari tiga batang. semakin lama semakin banyak. Uang jajanku habis hanya untuk rokok. Orang tuaku mulai curiga melihat celana celanaku yang bolong terkena latu rokok.


Suatu ketika, ibu memergoki aku sedang merokok di rumah salah satu teman. Tentu saja orang tua mana yang suka melihat anaknya merokok, apalagi masih sekolah.  Meski begitu, aku masih tetap merokok lagi dalam diam.


Menginjak kelas 2 SMK aku masih merokok. Bahkan aku sudah berani merokok di kantin sekolah sampai ahirnya aku sedang merokok sedirian di kantin. Apesnya ketahuan oleh seorang guru. Mungkin beda dengan sekolah lain. Peraturan di sekolahku jika ada murid yang ketahuan merokok akan dihukum dengan merokok juga di depan kelas dan ditonton banyak murid. Nahasnya rokok hukumannya bukan merek yang aku suka. Melainkan adalah rokok siong. Sejenis cerutu. memiliki bau seperti kemenyan. Malunya minta ampun. Jika kau membaca tulisanku Cinta Suwung (2). Tentu di sana ada perempuan yang aku puja.


Tidak cuma sampai disitu. Besoknya orang tuaku dipanggil sekolah. karena kelakuanku yang kemarin. Sampainya dirumah aku dimarahi habis-habisan oleh ibu dan bapak. Semarah apa pun ibu dan bapak, mereka tidak pernah main tangan. Jujur aku takut.


Sempat berhenti merokok beberapa bulan. Rasanya tidak enak sekali, apalagi kalau sehabis makan, adeeeeh.  Pantun dua baris yang masyhur kala itu "nabi Daud menginjak curut, bar mangan ora udud kecuuuuut".


Sekarang aku sudah lulus sekolah. Orang tuaku pun sudah memperbolehkanku merokok. Artinya aku sudah semakin sering merokok. Menjadi pecandu rokok.
Tidak akan ada kata akibat jika sebab tidak datang lebih awal. Tapi dalam benakku, apakah merokok itu sebuah kesalahan?

Thursday, 27 June 2019

Semarang


Beberapa hari yang lalu aku dijalankan oleh Tuhan ke Semarang untuk suatu tujuan. Selain Yogya dan Slawi, Semarang adalah salah satu daftar kota kenangan. Semarang bagiku bukan saja “Kalinya Banjir”, tapi tsunami puncak kerinduan. Tidak percaya? Silahkan duduk manis di Banjir Kanal saat senja temaram.

Oleh suatu tujuan inilah aku menadapatkan keberkahan. Disambut oleh dua teman baikku. Yang keduanya tidak saling mengenal. Tapi keduanya mempunyai persaamaan. Keduanya bernama Udin.

Udin pertama adalah seorang Copywriter. Bekerja di biro jasa periklanan. Dari jaman awal kuliah, dia memang seorang konseptor ulung. Lama aku tidak bertemu dengannya. Kami berjumpa di kedai kopi, di kawasan Kota Lama. Arah timur dari gereja Blendug. Penampilannya tidak banyak yang berubah. Masih seperti yang dulu. Nyentrik. Rambutnya gondrong pertanda bahwa ia memang seorang seniman. Meski dia selalu menolak jika dipanggil seniman. Sayang sekali. Perjumpaan aku dengan dia tidak bisa lama. Selain aku harus memenuhi tujuan. Dia juga sebenarnya sedang bekerja. Dia meluangkan waktunya untukku.

Udin kedua adalah seorang yang tidak jelas. Tidak jelas identitasnya. Tidak jelas alamatnya. Dia mengaku beragama Islam, tapi tidak jelas apa madzhabnya. Ehh.. apa masih penting madzhab di jaman posmo ini? Eh apa ini masih posmo?
Kembali lagi ke Udin kedua. Umurnya adalah 6 tahun di atas umurku. Meski begitu, wajahnya masih terlihat unyu. Masih terlihat sangat muda. Dia seorang pendekar. Pendekar dalam makna sesungguhnya. Dia pernah berkisah padaku nama perguruan silatnya, tapi aku lupa. Seingatku perguruan itu lahir di tanah Sunda. Suatu ketika saat dia latihan di malam hari, tubuhnya mental terbang ke angkasa. Ahhhh betapa aku sering dibuat kagum olehnya. Bukan kagum oleh kehebatan dia sebagai pendekar. Tapi keluhuran budi pekerti. Sikap tawadhu’ sebagai cermin rendah hati.

Udin kedua ini aku anggap sebagai guru. Guru segala tahu. Segala permasalahan sering aku tanyakan. Meski sering dia berkata “Haisss embuhh, Jis” sebagai jawaban. Tapi aku menilainya itu adalah sikap kerendahan hatinya. Ada banyak hal tentangnya yang masih sangat misteri.

Dari udin pertama dan udin kedua, sebenarnya aku banyak belajar. Semarang, tiap jengkalnya adalah kenangan.

Negara Kisruh

Saya tidak pandai menulis. Hanya saja mencoba menuangkan apa yang sedang menjadi pikiran saya belakangan ini. Tidak ada kawan berbagi pendapat. Sayapun suka mengutarakan pendapat saya dalam bentuk tulisan. Tidak hanya pendapat, terkadang kisah asmara juga. Maklum saya masih mahasiswi yang tergolong maba jadi masih sering lirak lirik kating yang berujung asmara. Aihhh.. 


Lanjut. Dalam menulis, kadang saya kesulitan untuk menceritakan kisah sendiri. Lalu saya hanya coba mengkritisi apa yang sedang terjadi. Sekarang ini. Di tahun 2019 yang telah berjalan setengah ini. Banyak sekali kisruh yang terjadi. Mulai dari isu-isu yang lama tentang agama sampai yang baru tentang politik sampai yang benar-benar masih terjadi berbarengan dengan kisruh politik sekarang ini kisruh PPDB. Penerimaan peserta didik baru. Tentu sudah viral dan Anda sudah pada tahu masalah ini. 


Ya, ppdb sistem zonasi. Ini banyak sekali mengundang pro kontra para orang tua siswa. Berita sekarangpun di tv, di media online semua isinya cuma dua, yang satu kisruh politik yang satunya kisruh ppdb ini. Miris sekali Indonesia ini. Penerimaan peserta didik baru saja kisruh. Pantas saja, pendidikannya kisruh, politik kisruh, benar-benar negara kisruh. Eitts, jangan emosi dulu.


Kembali lagi ke PPDB sistem zonasi ini. Nah, sistem zonasi ini sebenarnya melihat dari beberapa negara maju seperti Jepang. Di Jepang sudah sejak lama menggunakan sistem zonasi ini dan benar saja pendidikannya benar-benar maju disana. Di Indonesia ini sebenarnya apa sih yang membuat kisruh? Di Indonesia ini yang membuat kisruh sebenarnya adalah kurangnya sosialisasi tentang sistem zonasi ini.


Berbicara tentang sosialisasi. Ternyata dananya enggak sedikit loh. Terus kemana larinya dana tersebut? Wallahu A'lam. Saya enggak bisa ngasih pendapat masalah ini.
Oiya sedikit cerita, saya ini merupakan pengguna media sosial yang aktif. Maklum saya masih maba jadi kalau tidak ada tugas atau tidak ada rapat akhirnya cuma scroll sosmed, tidak ada DM apalagi PC. 


Akhir-akhir ini saat saya scroll sosmed saya yang sepi, namun terlintas banyak sekali saya dapati meme-meme seputar tentang PPDB zonasi ini. Salah duanya ada yang begini bunyinya; "Bagaimana mau menuntut ilmu sampai ke negeri china kalau dibatasi zonasi". Sedikit berfikir, benar juga. Lalu ada lagi yang bunyinya seperti ini : "Mulai tahun 2020, nikah dibatasi sistem zonasi". Waduh! Saya mulai berfikir keras, saya masih jomblo, 2020 juga masih jadi mahasiswa, jodohku terhalang sistem zonasi.


Namun, menteri pendidikan kita memberi pledoi: Sistem Zonasi, adalah era berakhirnya sekolah favorit. Maha benar netijen dengan celotehnya. Dan maha benar pak menyebut. Lama-lama saya pusing dengan segala kondisi yang ada. Aihhh Indonesia.