Wednesday, 3 July 2019

TNI dan superiornya

Karena tuntutan suatu hal. Beberapa hari yang lalu tuntas sudah, aku terhitung bukan akademisi lagi. Aku harus mengundurkan diri. Segala hal yang berkaitan dengan akademik, saya tinggalkan. Tapi tidak mengurangi rasa cintaku pada sebuah pendidikan. Di sana aku berkembang. Di sana pula aku kenal dengan segala kejahatan.


Pendidikan formal. Tak ubahnya seperti anekdot. Cerita dari masa ke masa sebagai lulucon hiburan. Mendengar mendikbud akan menggandeng TNI untuk ajarkan jiwa korsa. Aku tertawa. Sejak lama digemborkan bahwa militer lebih disiplin dan lebih nasionalis dari sipil. Punya solidaritas dan kehormatan yang kuat dalam korps (jiwa korsa). Ia juga manusia yang serba bisa di bidang pekerjaan apapun. Faktanya: omong kosong.


Ini bukan perihal sentimentil perasaanku terhadap militer. Bukan. Apakah kedisiplinan itu hanya milik militer? Yang jelas, setiap profesi punya disiplin. Konon disiplinnya militer taruhannya nyawa. Memangnya sipil seperti bidan desa tidak melibatkan taruhan nyawa? Atau penjaga palang pintu kereta.
Parahnya, disiplin dikaitkan dengan kerapihan rambut cepak atau kebersihan markas barak. apalagi baris berbaris.


Klaim superior sudah biasa di semua kalangan. Sesama muslim saling mengklaim bahwa jalan berislamnya yang paling benar. Muncullah golongan takfiri. Orang-orang "kiri" pun sama. Mengaku dirinya paling kiri. Orang "kanan" juga sama.


Aku teringat kisah semasa bapakku nyantri. Bilik (kamar) harus selalu rapi. Bangun pagi. Shalat jamaah lima waktu sehari. Tidak boleh terlambat. Takzir hukuman pesantren ketat. Tidak tahu santri sekarang. Kenapa kita tidak saling menundukkan kepala. Bahwa semuanya kita sama. Tidak ada kelas yang memisahkan manusia. Tidak ada superior di atas bumi Tuhan yang maha Esa.

No comments:

Post a Comment